Translator

Kamis, 28 Juni 2012

Cerita Cita-citaku

Berbeda dengan gaya tulisanku di artikel sebelumnya, kali ini aku akan bercerita secara lebih akrab selayaknya aku mengobrol dengan teman-teman seusiaku. Dan karena blog-ku ini berlaku untuk semua umur, maka wajar jika aku berusaha untuk lebih akrab, sehingga setiap tulisanku dapat diterima oleh semua orang dari berbagai kalangan.
Baiklah, akan kumulai ceritaku. Bicara soal cita-cita, aku sempat memimpikan berbagai profesi untuk dilakoni kelak saat aku dewasa nanti. Beragam profesi itu mulai dari penulis, fotografer, pilot, pianis terkenal, pemain basket, business woman, dokter, dan masih banyak lagi (yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian dari seluruh cita-citaku yang dapat aku ingat).
Layaknya seorang anak kecil yang labil, aku memang ‘banyak maunya’. Kini, aku malah heran melihat anak kecil lain yang seperti itu. Melihat penari balet yang mampu menari dengan sangat indah membuatnya merasa ingin menjadi penari balet. Bahkan tak jarang, di hari yang sama ingin menjadi pesulap setelah melihat suatu acara di televisi yang menayangkan aksi seorang pesulap andal. Dalam hati aku bertanya-tanya. Kenapa mereka harus begitu? Apakah banyak dari mereka yang juga ingin menjadi seorang pembantu rumah tangga setelah melihat pembantu di rumah mereka mampu membersihkan rumah dengan cepat dan membantu memelihara barang-barang di rumah mereka dengan penuh tanggung jawab?
Semua orang tentu sudah mengetahui jawabannya. Sejak saat itu, saya jadi semakin menghargai pekerjaan mereka. Biar bagaimanapun, tanpa kehadiran mereka hidup kita tidak akan semudah yang kita bayangkan.
Sekarang, mari kita lirik lagi cerita tentang cita-citaku. Sejujurnya, setiap cita-cita yang pernah aku miliki, mempunyai ceritanya masing-masing. Seperti keinginanku menjadi seorang penulis. Harus kuakui memang menjadi seorang penulis adalah cita-cita pertamaku.

Sejak mendengar pengalaman mamaku yang juga seorang penulis, aku jadi tertarik untuk menjadi penulis. Saat itu usiaku baru sekitar 6 tahun. Sejak saat itu, aku mulai berlatih menulis tentang banyak hal. Mulai dari menulis buku harian, cerpen yang betul-betul singkat dan sederhana, puisi, dan lain-lain. Bahkan aku juga pernah membuat komik singkat dengan gambar yang ala kadarnya. Semua karyaku itu aku kumpulkan dan kutunjukkan pada mamaku setiap hari.
Baru-baru ini aku membuka kembali buku-buku karanganku. Awalnya aku ingin menunjukkannya lagi pada mamaku setelah bertahun-tahun disimpan di dalam lemari. Tapi di luar dugaanku, malah perasaan kecewa yang kudapat. Rasanya itu semua hanyalah coret-coretan remeh anak usia 6 tahun. Namun apa yang dikatakan mamaku?
Beliau sangat menghargai keberanianku untuk menulis di usia yang masih sangat kecil, jika dibandingkan dengan mamaku yang baru mulai menulis saat duduk di kelas 6 SD. Setidaknya aku senang mendengar pujian itu.
Beralih ke cita-citaku selanjutnya, yaitu fotografer. Sebenarnya keinginan itu dimulai dari kejahilanku memotret berbagai objek. Aku masih ingat saat itu objek yang paling aku sukai adalah mamaku yang beraktivitas di dapur. Aku rasa cita-citaku inilah yang paling tidak berkesan dan cepat aku lupakan.
Lalu, aku ingin menjadi pilot. Tidak seperti biasanya, seorang anak perempuan sepertiku ingin menjadi pilot. Umumnya, profesi ini memang dilakukan oleh laki-laki. Aku juga tidak terlalu lama bermimpi untuk menjadi seorang pilot, karena banyak hal yang lebih menarik minatku saat itu.
Selanjutnya, aku ingin menjadi pianis terkenal setelah beberapa bulan aku belajar di kursus musik dekat rumahku. Di sana aku memilih untuk belajar piano. Karena guru les-nya sangat baik saat itu, aku jadi semakin serius berlatih piano. Di waktu yang dekat aku juga mulai tertarik untuk bermain basket. Sayangnya kedua kegiatan yang aku gemari itu sangat berlawanan.
Awalnya aku tidak peduli dengan nasihat dari beberapa orang yang mengatakan jika aku ingin berlatih piano dengan serius, aku harus mengurangi kegemaranku bermain basket. Hal ini dikarenakan kondisi jari yang sehat juga perlu dijaga sehingga kita dapat bermain musik dengan lebih nyaman. Sedangkan dalam bermain basket, cidera tangan atau kaki merupakan hal yang wajar, bahkan cukup sering terjadi.
Sungguh sesuatu yang tidak diharapkan, aku mengalami cidera itu saat bermain basket sendirian di lapangan. Aku tahu bahwa cidera di jariku saat itu, meskipun kecil namun sangat memengaruhi kualitas bermain musik. Dan cidera itu membuatku harus berhenti bermain piano untuk beberapa hari.
Karena aku lebih memilih untuk tetap bermain piano, maka kuputuskan untuk melupakan cita-citaku untuk menjadi pemain basket. Memang tidak mudah bagiku, tapi beberapa tahun kemudian aku malah benar-benar tidak suka bermain basket lagi.
Perjalanan hidupku untuk mencari cita-citaku memang sangat melelahkan sekaligus membosankan. Sampai suatu saat aku mulai menyukai uang. (Hahaha...) Pasti terdengar lucu. Dengan lugunya aku membayangkan dunia bisnis yang menjanjikan, pakaian rapi setiap hari, dan tentu saja UANG. Aku tidak ingin membahas lebih banyak lagi tentang hal ini, karena aku yakin orang yang membacanya pasti akan berpikir bahwa mimpiku kali ini terlalu berlebihan, sebab tidak hanya di bidang pangan ataupun pendidikan, aku juga membayangkan hotel dan restoran mewah. Jadi cukup sampai di sini.
Dan..., akhirnya sampai juga aku di tahap ini. Suatu sore sepulang sekolah, tiba-tiba aku merasa sakit. Sakit perut. Awalnya tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sakit yang luar biasa seperti ini. Lalu keesokan harinya, aku merasa sakit perutku sudah berkurang, namun masih terasa sakit yang jika kurasakan semakin lama terpusat di perut bawah sebelah kanan. Bahkan aku harus sedikit membungkukan badanku saat berjalan.
Mendengar keluhanku itu, papaku segera membawaku ke klinik terdekat. Aku juga masih ingat saat menunggu di ruang tunggu klinik, badanku menggigil saat di luar hujan. Setelah aku pelajari lebih dalam, aku mengerti bahwa ini adalah akibat dari luka yang aku alami di usus. Sayangnya setelah pulang dari klinik, dokter bahkan belum tahu pasti bahwa aku menderita radang usus buntu.
Setelah beberapa hari berlalu, aku sempat berusaha untuk tetap datang ke sekolah walaupun sedang sakit. Jika diingat-ingat lagi, ternyata saat itu aku sangat menderita. Lalu aku disarankan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit yang lebih besar. Di sanalah aku bertemu dengan seorang dokter bedah yang berpengalaman (terlihat dari usianya yang sudah senior). Aku baru merasa kagum dengan kesabaran dan keahlian beliau dalam menangani pasien setelah 2 tahun sembuh dari penyakit itu.
Entah apa yang aku pikirkan. Yang pasti saat aku sakit aku hanya berpikir bagaimana caranya aku bisa sembuh. Bahkan saat sakit, aku tidak sempat berpikir takut untuk dioperasi. Singkat cerita, aku sembuh setelah melewati operasi tersebut.
Meskipun saat itu penyakitku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penyakit lain yang lebih berat, namun aku telah mendapatkan pelajaran bahwa mengembalikan senyuman ceria bagi orang yang sakit itu tidaklah mudah. Dan jika telah berhasil melakukannya, maka sudah pasti akan membawa kebahagiaan yang luar biasa bagi orang-orang tersebut.  Orang–orang yang kumaksud diantaranya adalah tenaga medis.
Bagiku, inilah cita-cita yang paling beralasan bagiku.  Dan dari pengalamanku ini aku menemukan asal mula cita-citaku untuk menjadi dokter.
Terimakasih banyak atas kesediaannya untuk membaca cerita tentang cita-citaku ini. Sebagai penutup, dengan senang hati aku mengucapkan selamat bermimpi untuk menemukan cita-citamu.
“Cita-cita itu tidak harus berdasarkan dari apa yang kita lihat dari orang-orang terdekat kita ataupun berdasarkan saran dari mereka. Cita-cita yang sesungguhnya adalah perwujudan dari pengabdian hidup kita untuk melakukan hal yang kita inginkan.”  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar